Tridarma Rasuane

Tridarma perguruan tinggi: pendidikan/ pengajaran, pengabdian dan penelitian

Tuesday, April 16, 2019

Tumbangnya Sang Bujang Petualang : Bebas Malaria Prestasi Bangsa

 Apa itu malaria? Sepertinya mustahil ya jika masyarakat belum tau tentang malaria, apalagi masyarakat yang suka traveling dan petualang. Petualang harus benar-benar tau tentang malaria. Bisa jadi sudah tau, malaria yaitu hanya suatu penyakit, akan tetapi masyarakat belum begitu tau secara detail apa akibat dan penyebab penyakit malaria itu. 


Jadi Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit protozoa obligat intraseluler dari genus Plasmodium. Penularan penyakit malaria dilakukan oleh nyamuk betina dari genus Anopheles. Nah berikut ini saya sebagai petualang yang suka jalan-jalan akan bercerita tentang perjuangku untuk Bebas Malaria sebagai prestasi Bangsa. Hehe.. "muluk banget ya sampai bawa bangsa segala.. yukk disimak"


Yup, berhubungan dengan malaria saya akan bercerita tentang pengalaman antara hidup dan mati saya akibat menderita penyakit malaria apalagi saya yang notabene adalah lahir dan besar di gunung layaknya bolang : bocah petualang yang menjelma bulang : bujang petualang yang hoby menjelajah daerah baru yang belum perna saya kunjungi. 
Sang Petualang sebelum tumbang karena Malaria
Cerita tumbangnya sang petualang berikut sejalan dengan hoby saya dalam ngetrip ngebolang atau istilah kerennya travelling tetapi saya lebih cocoknya backpackeran. Teman-teman saya sering memanggil saya dengan panggilan Bulang = Bujang petualang, mengapa demikian karena saya secara umur sudah kepala 3 tetapi masih saja suka jalan - jalan dan masih single. Hehe itu dulu... sekarang udah jadi LMI = Lelaki manut istri.. ckckk makin parah ya.. nah petualang harus tepar karena Malaria. Kasihan... 

Awal ceritanya yaitu tepat pertengahan bulan Agustus 2017 saya dilarikan ke rumah sakit karena sudah mengalami sakit kepala hebat dan demam panas tinggi. Sebelumnya selama 3 hari saya hanya beristirahat di kamar dengan kondisi badan panas dingin berfluktuasi dan sakit kepala luar biasa. Saat itu saya yang latar belakang kuliah di kesehatan, sudah berasumsi bahwa saya tumbang nih, saya tumbang karena 3 ciri penyakit yang banyak diderita orang yaitu typus, Demam Berdarah atau malaria. Jika saya kecapean demamnya tidak akan turun naik seperti ini. "Oh ternyata Tuhan sang petualang harus tumbang". 

Dari demam dan gejalanya itu, pada hari ke tiga saya tidak tahan lagi menderita sakit tersebut. Sehingga saya dibawa ke rumah sakit, saat itu saya langsung dibawa oleh keluarga ke UGD (Unit Gawat Darurat) akan tetapi setelah di UGD saya malah dianjurkan untuk berobat ke Klinik Dokter Praktek di Rumah Sakit tersebut. Oleh dokter saya langsung diperiksa dan di cek Laboratorium. Dari hasil cek laboratorium, saya dinyatakan positif terkena malaria dengan terinfeksi plasmodium vivax, positif salmonela typosa dan kondisi trombosit yang rendah yaitu sekitar 90 ribu permikroliter. "Keadaan saya saat itu sangat berbading terbalik dari seorang Bulang yang suka mendaki gunung lewati lembah ke samudera berpetualang. Saya kalah menyerah dan tumbang tak berdaya".

Dengan kondisi tersebut saya langsung direkomendasikan untuk rawat inap. Malaria dan types yang saya derita harus diobati. Selama 4 hari saya dirawat di rumah sakit, kondisi tubuh terus membaik dan sayapun dianjurkan pulang setelah trombosit naik diatas 120 ribu.
Selama dirumah sakit saya dijenguk oleh teman dan sanak saudara handai tolan mereka banyak sekali yang menyampaikan ejekan dan seruan kaget sebagai penyemangat karena saya yang sangat jarang sakit: "lu bisa sakit juga wan" "raja trip kalah dengan malaria haha cemen" "petualang ternyata bisa tepar" "petualanganmu sudah berakhir,;sobat!" "bulang : bujang petualang sudah KO" "komandan trip sudah tumbang" "ini betanda ayo nikah aja" "masak disuntik nyamuk saja sudah tumbang" dan lainnya banyak sekali gurauan dari teman-teman saat menjenguk saya sakit tersebut. 
Saat teman kerja menjenguk saya sakit malaria, petualang sudah hampir pulih
Selepas dirawat di rumah sakit, kondisi badan sudah membaik, cek laboratorium di sampel darah untuk kuman typus dan malaria sudah tidak ditemukan lagi. saya kembali beraktivitas seperti biasa sebagai tenaga pengajar, saya kembali ke rumah kost yang berjarak 50 km dari rumah keluarga besar. Walau kondisi belum begitu fit tetapi saya sudah bisa bekerja dengan baik. Saya merasa bahwa penyakit malaria dan typusnya sudah sembuh sehingga saya dapat berpetualang lagi, menikmati keindahan alam yang belum saya jamah. Sayapun akan melaksanakan rencana petualangan yang belum terlaksana akan tetapi keluarga masih melarang untuk saya beraktivitas berlebihan karena kawatir penyakit typus dan malaria dapat kambuh kembali. 

Setelah sebulan dari sakit malaria tersebut, keinginan untuk ngtrip kembali bergelora hingga saya bersama teman dari Jawa yang saat itu sedang berkunjung ke Lampung untuk mengantarkan mereka jalan-jalan tempat wisata di sekitar Bandar Lampung hingga trip petualang kami dengan motoran ke Taman Nasional Way Kambas.
Saat petualang tumbang pertama karena malaria menemui Gajah di Way Kambas 
Nah setelah pulang dari petualangan ke Way Kambas, tubuh mulai merasakan ada gejolak berontak yang tidak nyaman yang mana badan terasa lelah sekali, pusing dan malamnya mulai demam. Saat itu sudah terbesit "wah typus dan malaria kambuh, duh obat obat malaria sudah habis ngga ada stok tapi obat typus masih ada stock" Akhirnya saya konsumsi obat anti typus, multivitamin dan banyak istirahat untuk mengembalikan tubuh kelelah tersebut. Dalam hitungan 3 hari tubuh saya mulai memperlihatkan pulih kembali. "Demamku ini karena typus bukan karena malaria. Jadi sakitku ngga jadi kambuh syukurlah" itu dalam benak saya saat itu.

Selanjutnya seminggu setelah dari itu saya kembali untuk berolahraga yaitu bermain badminton yang saya geluti sejak dari kuliah dulu. Sehari setelah bermain badminton tersebut tubuh saya ternyata kembali bergejolak lebih parah dari yang seminggu sebelumnya, "petualang akan tumbang lagi nih" itu gumamku. Lalu saya coba untuk beristirahat dan mengkonsumsi obat typus dan multivitamin kembali akan tetapi tidak ada menandakan perubahan. Saya mulai resah dan kawatir "waduh kayaknya typus atau malaria ini benar-benar kambuh". 

Setelah 2 hari sakit saya tidak ada perubahan bahkan makin memburuk, akhirnya asumsi makin kuat ini adalah penyakit malaria yang kambuh kembali, akhirnya saya memutuskan untuk mencari obat malaria di apotek. Karena pada saat saya di rawat di rumah sakit saya diberi obat malaria jenis primaquin. Sehingga saya akan mencari obat tersebut di apotik karena kondisi lemas saya tidak kuat membawa motor sendiri, sang petualang sudah mulaI tumbang lagi. Akhirnya saya meminta teman samping kost untuk mencarikan obat malaria. Tapi apa daya dia tidak mendapatkan obat tersebut, dia sudah mencoba ke beberapa apotik untuk mecari obat malaria tetapi hasilnya nihil, akhirnya saya dibonceng teman tersebut untuk mencari obat malaria di apotek lain. Dari sekitar 12 apotik kami temui mereka semua menjawab obat malaria : kosong. 

Akhirnya saya kembali ke kost untuk istirahat saja. Saya sempat berpikir dulu obat malaria dijual bebas seperti pil kina, pil segitiga, reboquin, kloroquin dan sebagainya, kok sekelas kota ini tidak ada apotik satupun yang menjualnya lagi, apa sudah tidak ada lagi orang yang kena sakit malaria atau apa karena kota ini kota yang jauh dari pantai dan gunung sehingga tidak ada yang menderita malaria di kota ini? Selanjutnya Saya hanya mengkonsumsi obat typus, multivitamin dan berusaha tidur. Sang petualang berusaha untuk kuat. 

Malam itu saya hanya berusaha untuk tidur dengan menahan sakit kepala dan demam. Dalam hati apakah malaria ini kambuh lagi, karena sebelumnya saya yakin kalau terkena malaria tidak akan kambuh lagi. Dalam kondisi yang tak menentu malam itu saya lewati yang akhirnya pagipun tiba. 

Pagi itu tubuh masih lemes dan demamnya sudah turun, Saya merasa sudah agak membaik walau sebenarnya MALARIA ini sangat menyiksaku. Pagi itu saya meminta kembali kepada teman samping kost untuk membantu membelikan nasi uduk untuk sarapan pagi, setelah dibelikan nasi uduk tetapi malah mulut terasa pahit sekali dan sulit untuk menelan. Akan tetapi sedikit demi sedikit saya paksa untuk isi perut. Sambil menyakinkan diri "Petualang harus kuat dan mampu bertahan demi kehidupan". Selanjutnya karena kondisi yang semakin tidak menentu saya hanya untuk tidur saja. 

Sekitar pukul 9-an, ternyata teman kerja datang ke kost, karena dia mencari saya di kantor tidak ada. Saat itu dia sangat kaget melihat kondisi saya "wah bapak badannya panas sekali, bapak malarianya kambuh lagi ya?, bapak harus ke rumah sakit nih" keadaan yang demikian sehingga dia berusaha untuk mencari pinjaman mobil dan membawa saya ke rumah sakit. 

Di rumah sakit saya langsung dibawa ke UGD, oleh dokter jaga, saya disarankan untuk dirawat inap tetapi saya meminta kepada dokter untuk cek laboratorium terlebih dahulu sehingga tau apa yang menyebabkan saya sakitnya terasa lebih parah ini apakah karena typus atau malaria. Akan tetapi dokter menyampaikan kalau di rumah sakit ini cek lab dilakukan setelah pasien dirawat inap dan sampel darahnya dikirim ke lab rekanan karena di rumah sakit ini belum ada lab lengkap seperti itu. Akhirnya saya meminta kepada teman yang menghantarkan saya ke rumah sakit yang merawat saya bulan lalu atau sekaligus mengantar saya ke rumah. Sayapun tidak jadi dirawat di rumah sakit yang baru didatangi ini. 

Kami kembali ke mobil, Setelah di mobil kondisi tubuh saya semakin parah, lemas, sakit kepala, bernapasku makin berat, saya untuk mengangkat kepala terasa berat. Saya sudah tidak bisa berpikir jernih penyakit apa yang menyerang saya ini apakah malaria atau penyakit lain. Akhirnya teman tersebut siap meluncur ke rumah sakit di kota besar untuk mengantar saya yang semakin tak menentu. Akan tetapi setelah dia telponan dengan pemilik mobil ternyata tidak diizinkan untuk mobilnya dibawa jauh, akhirnya dia berusaha mencari pinjaman mobil. Hingga akhirnya teman tersebut tau kalau ada teman lain yang rumahnya juga satu kota dengan saya yang selalu membawa mobil PP untuk kerja. 

Atas kesepakatan mereka, Sayapun dibawah oleh teman lain tersebut untuk dibawah ke rumah sakit tempat saya dirawat bulan lalu. Selama di perjalanan kurang lebih satu jam, saya tidak tau rasanya sakit kepala, lemas, panas dingin dan yang paling sulit beberapa kali sesak napas. Saat itu saya berpikir mungkin nyawa akan segera dicabut ini. Saya menahan sakit, memejamkan mata hanya bisa bertasbih dan bertakbir. Petualang sudah benar-benar tumbang entah ini karena malaria atau karena penyakit yang baru.

Akhirnya sayapun sampai di rumah sakit dan sudah terbaring di UGD, setelah beberapa saat di UGD sambil menunggu hasil laboratorium, tidak tau suntikan apa yang diberikan paramedis di UGD tersebut seakan-akan tenaga saya yang sudah hilang, kembali bergairah. Keluarga sayapun sudah mendampingi saya, hingga akhirnya saya disarankan untuk rawat jalan saja dan saya hanya beberapa jam saja di UGD tersebut, sayapun pulang kerumah bersama keluarga. Dokter menyampaikan bahwa hasil lab negatif typus dan untuk malaria tidak ditemukan kumannya namun memang sulit jika tidak pada kondisi demam puncak untuk menemukan kuman malaria tersebut. Saya hanya diberikan obatnya untuk rawat jalan.

Setelah di rumah ternyata kondisi tubuh tidak menunjukan pemulihan signifikan saya semakin sulit untuk tidur dan jantung berdebar hebat bahkan sampai sulit untuk bernapas. Hingga kurang lebih 24 jam di rumah saya kembali dilarikan ke rumah sakit. Kali ini saya sudah merasakan benar-benar lemas dan seakan-akan napas sudah diujung dan sulit sekali untuk bernapas. Saya hanya pasrah dan berpikir nyawaku akan segera melayang. Saya pun seakan akan antara sadar dan tidar sadar karena sulit untuk bernapas. Pokoknya petualang sudah roboh tumbang. 

Saat itu sayapun mulai merasakan mendapatkan energi setelah mendapatkan suntikan di pantat dari tenaga medis, Obat yang disuntikan tersebut memberikan efek yang seolah-olah energi itu berjalan satu titik menyebar ke seluruh tubuh dan saya dapat bernapas dengan lega. Keluarga menyampaikan dari kata Dokter, bahwa obat yang disuntikan itu sangat pekat dan rasanya sangat sakit, akan tetapi saya tidak merasakan sakit akibat suntikan obat tersebut, mungkin hal tersebut karena sudah sangking lemasnya mengakibatkan tidak ada rasa sakit lagi. Ternyata obat yang disuntikan tersebut adalah obat malaria dosis tinggi. 

Hari ke hari kondisi saya berangsur semakin membaik. Obat malaria dosis tinggi tersebut disuntikan setiap 8 jam sekali dan semakin pulih saya semakin merasakan alangkat sakitnya ketika obat tersebut masuk di otot pantat. Obat tersebut diberikan seminggu nonstop. Sayapun dirawat hampir seminggu dan alhamdulillah badan kembali pulih, jumlah trombositpun sudah kembali mendekati normal, yang awal masuk rumah sakit dibawah 60 ribu per mikroliter tiap hari berangsung naik hingga diatas 120 ribu permikroliter. Setelah diskusi dengan dokter, sakit yang saya alami adalah dari malaria yang saya idap pada bulan lalu yang penyembuhannya belum tuntas. Sedangkan untuk typesnya sudah bersih sejak awal ceknya juga sudah negatif tetapi gejalanya itu karena malarianya, untuk deteksi malaria jika pada saat tidak puncaknya sulit ditemukan karena kumannya di darah tapi gejalanya dapat dilihat. 

Alhamdulillah petualang kembali pulih dan sejak itu saya diwanti wanti oleh keluarga untuk berhenti membulang dan segera pikirkan waktu untuk menikah. Ini adalah sentilan untuk saya agar segera menjalankan sunah rasul. Hanya karena kuman malaria yang disuntikan nyamuk seorang yang petualang yang menjelajah puncak gunung tertinggi dan menyelami lautan harus tumbang. Sayapun bermusahabah dan meminta petunjuk kepada Allah, alhamdulillah berselang dua bulan dari sakit saya itu, kami melangsungkan lamaran untuk pernikahan saya. 

Pada saat selepas sakit malaria tersebut, saya banyak mengulas bagaimana saya dapat sakit tersebut yang menurut saya penyakit ini amat dahsyat menggerogoti tubuh dalam hitungan hari karena seumur hidup saya tidak perna merasakan sakit yang demikian. 

Telusuk dan telusik ternyata 1 bulan sebelum sakit malaria, saya ada kegiatan camping 1 malam di pulau Permata di sekitar pesisir teluk Lampung bersama teman-teman petualangan ke gunung Semeru dulu. Setelah itu, 2 minggu sebelum sakit saya kembali camping lagi selama 1 malam di pantai Ketapang bersama teman teman petualang dan pecinta Alam Lampung (T3ampal).

Setelah dari camping saya full kegiatan satu minggu di Lampung Barat dalam acara Festival Skalabrak. Kegiatan tersebut cukup melelahkan dan badan sudah terasa nyilu-nyilu. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, semalam sebelum pulang ke rumah saya merasakan demam dan sakit kepala dan saat perjalanan pulangpun badan sudah makin tidak enak, hingga demam sampai 3 hari di rumah setelah pulang dari kegiatan tersebut.

Telusur punya telusur ternyata pesisir Teluk Lampung merupakan daerah yang tergolong endemik malaria. Terutama di daerah Pesisir Kabupaten Pesawaran, Bandar Lampung dan Lampung Selatan. Bahkan 80% penderita malaria di Lampung berasal dari Kabupaten Pesawaran. Jadi saya terjangkit malaria tersebut kemungkinan besar dari hasil camping saya di wilayah pesisir Pantai Kabupaten Pesawaran. 
gambar siklus hidup plasmodium penyebab malaria 

Selanjutnya Malaria, masa inkubasinya sejak awal digigit nyamuk hingga sakit terjadi beberapa hari yaitu sekitar 2-3 minggu, ini akan makin parah jika kondisi tubuh dalam tidak fit. keadaan ini sangat sejalan dengan sakit malaria yang saya alami. 

Dari pengalaman saya tersebut sangat disarankan jika akan berwisata ke tempat-tempat baru sebaiknya mengkonsumsi obat anti malaria. Selanjutnya setelah 3-4 minggu dari berwisata tersebut minum kembali obat anti malaria serta selalu menjaga kondisi tubuh tetap fit. 

Seorang yang badan yang besar, kuat dan kekar dapat tumbang karena malaria, apalagi seorang yang biasa saja, jadi harus selalu waspada. Karena bukan saja membuat tumbangnya sang petualang bahkan penyakit malaria mengancam nyawa jika terlambat ditangani. Alhamdulillah saya mampu untuk bangkit dan sehat setelah terkena malaria selama 3 bulan. Lepas dari jeratan penyakit malaria, Bagi saya ini adalah prestasi yang luar biasa. Dalam menggalakan Bebas Malaria Prestasi Bangsa. Semoga kedepannya tidak terkena lagi. Aamiin..

Sehingga sekarang saya dapat fokus untuk bekerja dan keluarga. akan tetapi efek dari sakit itu, selepas sakit malaria yang saya derita itu, sampai sekarang saya sudah tidak mengadakan trip atau berpetualang lagi untuk menjelajah  daerah baru. Ajakan dan tawaran teman-teman petualang lainnya selalu saya tolak karena seakan-seakan jiwa petualangnya mulai surut bahkan sudah mendekati kering. "Maafkan saya, teman-teman petualang" apakah sang petualang ini sudah benar-benar tumbang atau akan bangkit lagi.. hanya waktu yang akan berkata.. (jadi baper) 

Dibalik cerita tumbangnya sang petualang, tepat hari senin tanggal 15 april 2018 diadakan acara temu blogger yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di hotel Novotel Bandar Lampung yang temanya "Bebas Malaria Prestasi Bangsa"  dari pertemuan sehari tersebut banyak sekali ilmu yang saya dapatkan dan terpentingnya yaitu semangat saya untuk terus berkontribusi untuk bersama-sama menghilangkan malaria di bumi pertiwi.  Hingga sayapun menuangkan cerita kelam yang saya alami akibat malaria pada artikel ini.  
Acara temu blogger kesehatan diadakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di hotel Novotel Bandar Lampung
sumber foto: panitia temu blogger kesehatan
Mulai dari sekarang mari kita bersama sama mengeliminasi malaria demi keberlanjutan masa depan bangsa. Dimulai dari diri kita untuk waspada dan mengenali malaria lalu mencegah dan selanjutnya kita sosialisasikan untuk bersama-sama bebas dari malaria. Jika malaria dieleminasi adalah kebanggaan kita sebagai bangsa yang besar. 

Demikianlah ceritaku tentang Tumbangnya Sang Bujang Petualang: Bebas Malaria Prestasi Bangsa, mari kita eleminasi malaria dan membuat bangsa Indonesia zero malaria. 
Semoga bermanfaat. Salam bahagia selalu!!..

Tambahan bagi teman-teman ingin membaca detail tentang malaria dapat mengunjungi artikel : Mengapa malaria sangat berbahaya? 

Saturday, April 13, 2019

Bagaimana Enzim Bekerja dan Faktor yang Mempengaruhinya?

KERJA ENZIM 
Definisi Enzim 
Enzim adalah biokatalis yang dihasilkan oleh jaringan yang meningkatkan laju reaksi kimia atau mengaktifkan senyawa lain secara spesifik. Biokatalis adalah senyawa organik yang bekerja mempercepat reaksi tetapi tidak bereaksi. 

Karakteristik enzim adalah sebagai berikut: 
  • Enzim merupakan Protein. 
  • Enzim sebagai katalisator dapat meningkatkan laju reaksi sekitar 107-1013 kali lebih cepat dari katalis non enzim. 
  • Enzim dapat menurunkan energi aktivasi suatu reaksi. 
  • Enzim mempunyai sifat spesifitas yang menyebabkan enzim sangat memilih substrat yang akan dikenali, diikat dan diolah lebih lanjut. 
  • Enzim Menurunkan Energi Aktivasi. 
  • Enzim merupakan senyawa yang jauh lebih kecil sehingga reaksi dapat berlangsung di dalam sel. 
  • Enzim dalam proses katalisis suatu reaksi, enzim bereaksi terlebih dahulu dengan substrat sehingga terbentuklah senyawa baru atau kompleks seperti rumus: E + S - - ES -- E + P 
Enzim dihasilkan oleh sel-sel di dalam tubuh banyak sekali enzim yang adalah di tubuh yang berfungsi dalam reaksi-reaksi kimia di dalam tubuh salah satu proses metabolisme tubuh. Enzim disintesis oleh dan di dalam sel. Enzim akan disintesis jika sel mempunyai gen untuk enzim tersebut. Di dalam sel banyak terdapat organel-organel sel. Organel lisosom memiliki 40 jenis enzim hidrolitik asam, seperti protease, nuklease, glikosidase,lipase, fosfolipase, fosfatase, ataupun sulfatase yang dibentuk dalam RE kasar dan dibawa ke Lisosom. Lisosom adalah organel sel yang berfungsi untuk mencerna atau menghancurkan benda-benda asing atau bagian sel yang tidak diperlukan lagi, termasuk dalam mencerna patogen yang masuk dalam sel. Enzim di Lisosom menghidrolisa setiap makromolekul biologis, hasil degradasi dikeluarkan ke sitoplasma. Semua enzim tersebut aktif pada pH :5 (Asam hidrolase), kelompok Enzim yang ada didalam organel sel lisosom tersebut dinamakan lisozim (not ribozim). 

Bagaimana Kerja Enzim 
Dua model telah diusulkan untuk menjelaskan bagaimana enzim bekerja yaitu enzim berikatan dengan substrat: 
1) Model Key And Lock (Kunci dan Gembok) 
Model ini dipublikasikan oleh Emil Fisher pada tahun 1894, yang menyatakan bahwa bentuk molekul substrat dengan sisi aktif enzim serupa dengan anak kunci dengan kuncinya.  

2) Model Induced-fit (Kecocokan) 
model diusulkan pada tahun 1958 oleh Daniel E. Koshland, Jr. Pada model ini substrat menyebabkan perubahan konformasi pada bagian sisi aktif enzim. 

Spesifikasi Kerja Enzim 
Enzim mempunyai sifat spesifitas yang menyebabkan enzim sangat memilih substrat yang akan dikenali, diikat dan diolah lebih lanjut. Oleh sebab itu spesifikasi enzim dibedakan menjadi 3 jenis yaitu: 
  • Spesifitas stereoisomer 
  • Spesifitas ikatan kimia 
  • Spesifitas Gugus 
1. Spesifitas stereoisomer, Stereoisomer adalah salah satu jenis isomer yang memiliki sifat fisika dan kimia yang sangat mirip namun aktivitas biokimia yang berbeda. Isomer adalah senyawa yang mempunyai rumus molekul sama,tetapi rumus strukturnya berbeda. Spesifitas stereoisomer, Enzim – enzim pada umumnya bekerja pada senyawa organik, hanya sebagian kecil saja senyawa anorganik, Senyawa organik seperti Karbohidrat, enzim yang bekerja terutama pada konfigurasi D, pada asam amino bekerja pada konfigurasi L. 

2. Spesifitas ikatan kimia, enzim yang berfungsi untuk pemecahan molekul dengan memutuskan ikatan nonkovalen, memecah ikatan kovalen dengan Hidrolisis. Contohnya Hidrolase, glikosidase, amilase, esterase, fosfatase. 

3. Spesifitas Gugus, Enzim hanya bekerja pada substrat yang mempunyai gugus tertentu, contoh: enzim pemecah protein akan memecahkan ikatan peptide. 

Tingkat Spesifitas Enzim 
Spesifitas enzim rendah, hanya memecah ikatan kimia saja, seperti enzim esterase, fosfatase.sedangkan Spesifitas tinggi, enzim yang mengolah hanya satu saja substrat, contoh : enzim-enzim metabolisme karbohidrat. 

Pusat Aktif Enzim dalam Sel 
  • Enzim yang ada di organel Mitokondria,untuk menghasilkan energi. 
  • Enzim yang ada di organel Ribosom,untuk proses sintesis protein. 
  • Enzim yang ada di organel mikrosom,untuk biosintesis protein. 
  • Enzim yang ada di organel Lisosom, untuk pemecahan berbagai bahan yang tidak diperlukan oleh tubuh. 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim 
· Konsentrasi Enzim 
· Konsentrasi substrat 
· Pengaruh Suhu (Temperatur) 
· Pengaruh pH (Derajad keasaman) 
· Pengaruh Hambatan (Inhibitor)

Konsentrasi Enzim dan Konsentrasi substrat 
Ada suatu kecepatan maksimum reaksi enzimatis pada jumlah tertentu dari enzim yang dapat mengkataliser suatu reaksi yang spesifik. Hanya dalam konsentrasi substrat yang tinggi kecepatan maksimum reaksi dapat terjadi. Dalam kondisi konsentrasi substrat yang tinggi, enzim akan jenuh, bila bagian aktifnya selalu diisi oleh substrat atau molekul-molekul produknya. Pada keadaan ini, pertambahan konsentrasi tidak akan mempengaruhi kecepatan reaksi, karena semua bagian aktif enzim (active site) sudah digunakan. Apabila suatu konsentrasi substrat melebihi titik jenuh sel, maka kecepatan reaksi dapat bertambah bila sel menghasilkan molekul-molekul tambahan. Akan tetapi dalam kondisi sel yang normal, enzim tidak akan jenuh dengan substrat. Molekul-molekul enzim akan tidak aktif, apabila kekurangan substrat. 

Pengaruh Suhu (Temperatur) 
Kerja enzim akan dipengaruhi oleh suhu dimana kecepatan reaksi-reaksi enzimatis terhadap substrat akan berkurang jika terjadi kenaikan temperatur. Aktivitas enzim akan berbeda pada temperatur minimum, optimum dan maksimum. Reaksi enzimatis di atas suhu optimum akan menurun drastis. Menurunnya aktivitas enzim ini berkaitan dengan denaturasi enzim. denaturasi enzim yaitu peristiwa kerusakan pada enzim sehingga tidak dapat berfungsi, yang biasa terjadi pada semua protein-protein. Denaturasi biasanya mencakup pemecahan ikatan hidrogen dan ikatan nonkovalen yang mengikat enzim dalam sifat struktur 3 dimensi. Salah satu contoh yang biasa dari denaturasi adalah transformasi dari albumen atau putih telur yang belum matang akan berubah menjadi padat apabila dipanasi. Perubahan dalam struktur ini mengubah susunan dari pada asam-asam amino pada bagian “active site” dan menyebabkan enzim kehilangan kemampuan untuk mengadakan katalis serta aktivitas biologi yang vital. Dalam beberapa hal, denaturasi dapat bersifat reversibel. Tetapi jika denaturasi terus sampai pada suatu kondisi dimana enzim kehilangan solubilitas, dan menggumpal, maka terjadi denaturasi yang irreversibal, sebab enzim tidak mendapatkan sifat-sifatnya semula. 

Pengaruh pH (Derajad keasaman) 
Kerja Enzim dipengaruhi pH, Perubahan pH lingkungan akan berpengaruh pada efektivitas bagian aktif enzim (active site). Perubahan pH yang cukup drastis dapat menyebabkan denaturasi sehingga menurunkan efektivitas enzim. Temperatur dapat menyebabkan denaturasi (kerusakan enzim) karena memutuskan ikatan H pada molekul protein enzim. Kebanyakan enzim bekerja mempunyai pH optimum, aktivitasnya berada dalam keadaan maksimum. Di bawah atau di atas pH optimum, aktivitas enzim akan mengalami deklinasi. Derajad keasaman atau pH optimum untuk kegiatan enzim tidak terletak pada suatu pH tertentu yang tetap, akan tetapi tergantung kepada: kemurahan enzim, sumber enzim, temperatur dan sifat serta kadar yang ada. Kegiatan enzim tergantung kepada pH macamnya substrat. Enzim yang berasal dari sumber yang berbeda juga akan mempunyai pH yang berbeda pula, misalnya, pH ludah= 6,7- 6,8. Contoh lain enzim pepsin yang berkerja di Lambung akan bekerja optimal pada pH lambung yaitu sangat asam yang mencapai 2. 

Kerja Enzim Dipengaruhi Hambatan (Inhibitor) 
Hambatan kerja enzim dimana tidak terbentuknya kompleks substrat enzim dalam reaksi yang dikatalisis oleh enzim. Sehingga enzim tidak bekerja dalam mengkatalisis substrat. Contoh : 
  • Ion-ion hidroksil (OH-ion), dapat menghambat kegiatan enzim pepsin 
  • Racun-racun tertentu seperti cyanida, arsenik, merkuri, apabila digabung dengan enzim, akan menghambat aktivitas enzim. 
  • Obat-obat anti mikroba, dapat menghambat kegiatan enzim 
  • Urease dapat dirusak oleh pepsin. 
Hambatan terhadap kerja enzim terdiri dari : 
  • Hambatan tidak reversibel. 
  • Hambatan reversibel. Terdiri dari 2 macam yaitu: 
1) Hambatan reversibel bersaing (Competitive inhibition ) 
2) Hambatan reversibel tidak bersaing (non Competitive inhibition) 

Hambatan Tidak Reversibel 
Irreversible adalah golongan yang bereaksi dengan, atau merusakkan suatu gugus fungsional pada molekul enzim yang penting bagi aktivitas katalitiknya. Substart tidak dapat memasuki bagian aktif dari enzim. Enzim tidak dapat berfungsi sebagai katalitik. 
Contohnya: senyawa diisoprofilfluorofosfat (DFP), yang menghambat enzim asetilkolinesterase, yaitu enzim yang penting di dalam transmisi impuls syaraf. 

Hambatan Reversible 
Hambatan Reversibel Bersaing 
Dikarenakan adanya molekul yang mirip dengan substrat sehingga membentuk kompleks enzim substrat yang inhibitor. Penghambat bersaing, akan bersaingan dengan substrat untuk memasuki bagian aktif dari enzim. Inhibitor ini dapat bersaing dengan substrat karena bentuk dan struktur kimianya bersamaan. Hambatan reversibel bersaing (Competitive inhibition) terjadi jika suatu molekul lain yang mirip dengan substrat lebih dulu berikatan dengan enzim sehingga menyebabkan enzim terhambat untuk mengikat substrat dalam suatu jalur metabolik. ikatan ini bersifat sementara. 
Contohnya: Asam malonat, oksalat, dan oksaloasetat. Kegiatan enzim dehidrogenese asam suksinat dihambat oleh asam malonat, sebab molekul asam malonat serupa dengan asam suksinat yaitu mempunyai 2 gugusan OH. Karena struktur dari kedua molekul asam ini hampir sama, maka asam malonat akan diikat pula oleh enzim dapat dimetabolisir lebih lanjut, maka ikatan asam malonat dengan enzim tidak mudah dilepaskan. Dengan terbentuknya ikatan yang kuat ini, menyebabkan adanya persaingan yang ketat antara asam malonat dengan asam suksinat pada permukaan enzim. Sulfanilamida (obat sulfa) dapat menghambat kegiatan enzim yang substrat adalah asam asam paraaminobenzoat (paraaminobenzoic acid) yang dalam buku literatur disingkat PABA saja. PABA merupakan nutrien esensial yang digunakan oleh banyak bakteri dalam sintesis asam folat (folic acid), suatu vitamin yang berfungsi sebagai koenzim. Apabila sulfanilamida diperlakukan kepada bakteria, amka enzim yang biasa dapat merubah PABA menjadi asam folat, akan bersenyawa dengan sulfanilamida dan asam folat tidak terbentuk sehingga bakteri tidak dapat tumbuh. Sel-sel tubuh manusia tidak menggunakan PABA untuk membentuk asam folat, sehingga sulfanilamida membunuh bakteri, akan tetapi tidak merusak sel-sel tubuh manusia. 

Hambatan Reversibel Tidak Bersaing 
Inhibitor menempati bagian dari enzim diluar dari bagian aktif. Inhibitor non kompetitif tidak bersaing dengan substrat terhadap bagian aktif enzim, karena bekerjanya pada bagian lain, sehingga merubah bagian aktif dan mencegah pengikatannya dengan substrat. Bagian dari ikatan inhibitor yang non kompetatif disebut “allosteric site” yang khas bagi inhibitor ini. Inhibitor membentuk kompleks enzim inhibitor maupun kompeks enzim substart inhibitor. Contoh zat ini adalah Cu, Ag, Hg.  Ikatan antara enzim dengan substrat dapat terhambat karena inhibisi. Enzim tidak bisa mengikat substrat karena struktur active site berubah akibat berikatan dengan inhibitor di bagian allosteric site. Inhibisi ini disebut non competitive inhibition bersifat permanen. 

Kontrol Terhadap Kerja Enzim 
Kecepatan kerja enzim dapat dipengaruhi suatu molekul lain yang dapat berperan sebagai pemicu (activator) atau penghambat (inhibitor), keduanya biasanya disebut secara bersama-sama sebagai efektor. 
Kontrol terhadap kerja enzim adanya mekanisme feedback inhibition. contoh, enzim tripsin, pertama kali diproduksi oleh pankreas masih berupa tripsinogen. Tripsinogen dibawa ke usus halus dan diaktivasi oleh enzim enteropeptidase yang dihasilkan oleh usus halus membentuk enzim tripsin yang aktif. Selanjutnya enzim tripsin dapat mengaktivasi balik tripsinogen atau zymogen lainnya misalnya chymotrypsinogen dan proelastase menjadi chymotripsin dan elastase. 

Peran dan Fungsi Enzim Dalam Tubuh 
· Enzim berperan penting dalam proses pencernaan. 
· Enzim berperan dalam metabolisme antara . 
· Berperan dalam percepatan reaksi dan merombak molekul yang lebih besar menjadi molekul yang lebih kecil atau sebaliknya. 
· Berperan sebagai alat diagnostic. 
· Berperanan dalam pengobatan. 
· Enzim dan pengobatan. 
· Pada awalnya digunakan pada penyakit-penyakit gangguan pencernaan, seperti enzim, pepsin, tripsin, amilase atau lipase. 
· Pengobatan akibat kurangnya enzim disebabkan oleh gangguan pada gen, misal: Hemofilia. 

Peran dan Fungsi Enzim sebagai Diagnosa Penyakit 
· SGOT (MCI). 
· Alanin Aminotransferase, ALT, SGPT (hepatitis virus). 
· Amilase (pancreatitis Acut). 
· Seruloplasmin (Degenerasi hepatolentikularis). 
· Kreatin Kinase (Kelainan Otot MCI). 
· Laktat Dehidrogenase ,Isozim (MCI). 
· Fosfatase asam (ca Prostat metastase). 
· Fosfatase,alkali (isozim) à Kelainan Tulang penyakit obstruksi hepar. Amino transferase (MCI). 
· Aspartat Aminotransferase (MCI). 

REFERENSI : 
Murray, dkk. 2009. Biokimia Harper. Edisi 27. Jakarta. 
Dawn B. Marks, dkk. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar. EGC 
Armstrong. 1995. Buku Ajar Biokimia. Jakarta: EGC. 
Adisoemarto, Soenartono. 1990. Mikrobiologi Dasar Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga. 
Budiyanto, Moch Agus Kresno. 2002. Mikrobiologi Terapan. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. 
Suriawira U, 1995. Pangantar Mokrobiologi Umum. Bandung: Angkasa 
Tarigan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: DPK

Friday, April 12, 2019

Logo Resmi Universitas Muhammadiyah Metro




Civitas akademia Universitas Muhammadiyah Metro  sering sekali bingung dalam menggunakan logu Universitas, sehingga melalui akun resmi website Universitas Muhammadiyah Metro  disampaikan bahwa untuk Logo Resmi Universitas Muhammadiyah Metro adalah dua jenis ini yang terdiri berwarna dan hitam putih, silahkan digunakan semoga bermanfaat. 

Mengenal Enzim : Struktur Enzim dan Sifat – sifat Enzim


Berbicara tentang mahluk hidup tentu tidak akan lepas dari kata ENZIM, lalu Apa itu enzim?

Enzim merupakan biokatalis yang dihasilkan oleh jaringan tubuh  yang meningkatkan laju reaksi kimia atau mengaktifkan senyawa lain secara spesifik. 

Enzim dihasilkan di tubuh dan perannya sangat penting sekali bagi kehidupan, jika didalam tubuh terjadi ganguan terhadap enzim akan menyebabkan gangguan juga terhadap metabolisme di tubuh, salah satu akan menyebabkan sakit, peran utama enzim adalah sebagai zat protein yang mempercepat reaksi kimia (katalis) yang ada di dalam tubuh. 

Berbagai sumber acuan banyak menjelaskan dari pengertian / difinisi enzim, yang pasti secara garis besar pengertian tersebut sama. Pengertian enzim secara singkat enzim adalah katalisator. 

Pengertian Katalisator adalah zat yang dapat mempercepat reaksi kimia, tetapi tidak mengalami perubahan oleh reaksi itu sendiri.

Pengertian Enzim secara lengkap, enzim adalah katalisator, berupa zat organik (protein) untuk reaksi kimia dalam sistem biologik, Sebagian besar dihasilkan oleh sel hidup, dapat diekstraksi dari sel, tanpa hilang aktivitas biologiknya, serta dapat bekerja di dalam dan di luar sel. 

Struktur enzim = Bagian Enzim
Enzim tersusun oleh 3 komponen utama yaitu: 
1. Komponen utama enzim adalah protein. Bagian enzim yang berupa protein disebut apoenzim. Apoenzim disebut juga dengan istilah apoprotein. 

2. Komponen enzim yang bukan protein disebut Gugus prostetik, gugus prostetik pada enzim terdiri dari 2 macam yaitu: Koenzim dan kofaktor. Koenzim atau kofaktor yang terikat sangat kuat bahkan terikat dengan ikatan kovalen dengan enzim. 

Koenzim
Jika gugus prostetik yang tersusun oleh bahan organik / senyawa organik non protein disebut Koenzim. Koenzim sering juga disebut Kosubstrat = substrat kedua. Koenzim memiliki berat molekul rendah. Koenzim stabil terhadap pemanasan. Koenzim terikat enzim secara non kovalen. Koenzim berfungsi untuk mengangkut molekul-molekul kecil atau ion-ion (terutama H+) dari satu enzim ke enzim yang lain, misalnya : NAD. Enzim-enzim tertentu aktivitasnya perlu koenzim bahkan harus ada. Koenzim biasanya berupa vitamin B kompleks yang telah mengalami perubahan struktur. Beberapa contoh koenzim: tiamin pirophosfat, flavin adenine dinokleat, Nicotinamide adenine dinucleotode, Pyridoxal phosphate, koenzim A, dll.

Kofaktor /co-factor
Jika gugus prostetik yang tersusun oleh bahan Anorganik disebut kofaktor. Kofaktor dapat merubah struktur active site dan/atau dibutuhkan oleh substrat untuk berikatan dengan active site. Contoh ko-faktor: yang dapat berupa molekul-molekul kecil atau ion-ion: Fe++, Cu++, Zn++, Mg++, Mn, K, Ni, Mo, Se, dll. 

Sedangkan gabungan antara Apoenzim dan koenzim disebut holoenzim.

3. Sisi aktif enzim (active site)
Sisi aktif enzim merupakan bagian enzim yang berikatan dengan substrat, daerah ini sangat sfesifik karena hanya substrak yang cocok saja yang bisa melekat atau berikatan pada sisi ini. Enzim merupakan protein yang memiliki struktur globular. Struktur enzim yang berlekuk-lekuk menyebabkan terdapatnya area yang dikenal sebagai active site. Terdapat bermacam asam amino penyusunnya dan bagaimana pengaturannya di area active site, yang mempengaruhi spesifisitas enzim. Umumnya enzim mengikat substrat dengan cara merubah konformasi, sehingga dapat kontak dengan substrat secara lebih baik.

Apakah ada enzim yang komponen utama adalah protein ? 
Jawaban: ya ada yaitu Ribozim
Ribozim adalah enzim yang bukan protein yang komponen utamanya RNA spesifik yang berfungsi mengkatalisis perubahan pre mRNA menjadi mRNA masak.

Karakeristik Enzim 
Ada 2 karakteristik penting enzim: 
1. Enzim tidak berubah masuk ke dalam reaksi kimia dan bertindak hanya sebagai katalisator. 
2. Enzim tidak mengubah keseimbangan yang konstan pada reaksi kimia tersebut, enzim ini hanya meningkatkan kecepatan dimana reaksi mendekati keseimbangan. 

Sifat –Sifat Enzim 
  • Pada umumnya enzim adalah protein, Enzim hampir seluruhnya adalah protein dan hampir lebih separuh jumlah protein yang ada dalam sel adalah ENZIM. Enzim merupakan protein molekul besar terdiri dari sebuah rantai asam amino atau lebih, disebut rantai polipeptida. Rangkaian asam amino menentukan karakteristik untuk spesifisitas enzim Setiap jenis enzim mempunyai bentuk tiga dimensi (konformasi) yang khas. Memiliki susunan asam amino tersendiri. Seperti halnya protein lain, enzim memiliki BM antara 12,000 – 1 juta kilodalton. 
  • Enzim adalah biokatalisator yaitu mempercepat suatu reaksi tapi tanpa mengalami perubahan karena reaksi itu sendiri. Proses biologis pada seluruh organisme hidup adalah reaksi kimia dan kebanyakan diatur oleh enzim, tanpa enzim banyak reaksi kimia ini tidak akan terjadi. Enzim mengkatalisa semua aspek metabolisme sel. Sebuah molekul enzim yang khusus dapat mengubah 1.000 molekul substrat per detik, kecepatan reaksi enzimatik meningkat dan kon-sentrasi substrat naik, kecepatan yang ditentukan oleh kecepatan aktif site dapat mengubah substrat menjadi produk. 
  • Enzim hanya disintesis oleh dan di dalam sel. Enzim akan disintesis jika sel mempunyai gen untuk enzim tersebut. 
  • Enzim merupakan senyawa yang jauh lebih kecil sehingga reaksi dapat berlangsung di dalam sel 
  • Dalam proses katalisis suatu reaksi, enzim bereaksi terlebih dahulu dengan substrat sehingga terbentuklah senyawa baru atau kompleks enzim substrat dan akan menghasilkan produk. Enzyme + Substrate = Product : E + S -> ES -> E + P 
  • Enzim dapat meningkatkan laju reaksi sekitar 107-1013 kali lebih cepat dari katalis non enzim. Meningkatkan kecepatan reaksi. 
  • Enzim dapat menurunkan energi aktivasi suatu reaksi. Untuk aktivasi, enzim membutuhkan energi yang lebih rendah. 
  • Enzim mempunyai sifat spesifitas yang menyebabkan enzim sangat memilih substrat yang akan dikenali, diikat dan diolah lebih lanjut 
  • Aktivitasnya hilang apabila enzim mengalami denaturasi. 
  • Untuk aktivitasnya ada yang membutuhkan koenzim/kofaktor (bentuk aktif vitamin atau logam). Vitamin C atau asam ascorbat harus ada didalam makanan karena tubuh tidak mempunyai enzim yang membantu pembentukan Vit C. 
Peran dan fungsi enzim dalam tubuh 
  • Enzim berperan penting dalam proses pencernaan 
  • Enzim berperan dalam metabolisme antara 
  • Berperan dalam percepatan reaksi dan merombak molekul yang lebih besar menjadi molekul yang lebih kecil atau sebaliknya 
  • Berperan sebagai alat diagnostik 
  • Berperanan dalam pengobatan 
Bagaimana kerja dari enzim?
Secara garis besar di bahas di materi Bagaimana enzim bekerja di dalam tubuh?

REFERENSI : 
Murray, dkk. 2009. Biokimia Harper. Edisi 27. Jakarta, EGC; 53-57.
Armstrong. 1995. Buku Ajar Biokimia. Jakarta: EGC.
Dawn B. Marks, dkk. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar. EGC 


Thursday, April 11, 2019

Latihan Soal Mikrobiologi Sub Materi Metabolisme Mikroorganisme

1. Reaksi-reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup dapat dibedakan dalam kelompok metabolisme yaitu...
a. Anabolisme dan katabolisme
b. Metabolisme dan anaerob
c. Autotrof dan Heterotrof
d. Fotosistem dan fotosistem I
e. Hidrolisis dan oksidasi reduksi

2. Dalam bagian-bagian enzim, terdapat Sitokrom yang fungsinya berikut ini yang paling tepat adalah...
a. enzim yang berfungsi sebagai pembawa elektron (Electron carrier) dalam proses- proses respirasi dan fotosintesis.
b. enzim yang berfungsi sebagai pembawa elektron (Electron carrier) dalam proses- proses respirasi saja.
c. enzim yang berfungsi sebagai pembawa elektron (Electron carrier) dalam proses- proses fotosintesis saja.
d. enzim yang berfungsi sebagai pembawa elektron (Electron carrier) dalam proses- proses ekspirasi.
e. enzim yang berfungsi sebagai pembawa elektron (Electron carrier) dalam proses- proses respirasi dan ekspirasi.

3. Enzim- enzim yang dapat memindahkan atom-atom hidrogen dari suatu subtrat disebut...
a. Dehidrogenansi dan prosesnya disebut dehidrogenase.
b. Dehidrogenase dan prosesnya disebut dehidrogenansi.
c. Dehydrolisis
d. Dehydrogenansi
e. Dehydrogenansi dan dehyrogenisme.

4. Enzim komponen utamanya terdiri dari protein yang disebut...
a. Koenzim
b. Sitokrom
c. Apoenzim
d. Endoenzim
e. Eksoenzim

5. Menurut Tortora (1986) beberapa contoh kofaktor adalah, kecuali...
a. ion-ion logam termasuk besi,
b. tembaga,
c. maknesium,mangan,
d. seng, kalsium dan kabait
e. oksigen dan hidrogen

6. Penggolongan enzim berdasarkan daya katalisis dan merupakan kesepakatan dari komite biokimia internetional adalah...
a. Oksidoreduktase, transferase, hidrolase, liase, isomerase, dan ligase
b. Oksidoreduktase, protease, ligase, hidrolase, liase, dan isomerase
c. Oksidoreduktase, amilase, protease, transferase, hidrolase, dan liase
d. Oksidoreduktase, transferase, hidrolase, liase, isomerase, ligase dan oksidase
e. Oksidoreduktase, transferase, hidrolase, liase, isomerase, ligase dan oksigenase

7. Pada kelompok enzim Oksidoreduktase, enzim ini mengkatalisis reaksi oksidasi-reduksi, yang merupakan pemindahan elektron, hidrogen atau oksigen. Enzim- enzim tersebut mengkatalisis reaksi-reaksi...
a. Hidrolase
b. Oksitranferase
c. Oksidoase dan hidrolase
d. Oksidase dan Oksigenase
e. Transferase dan hidrolase

8. Koenzim merupakan senyawa- senyawa organik yang mempunyai berat molekul yang cukup rendah, bersifat termostabil, dapat dialisa dan juga bersifat mengkatalisir. Contohnya a.. Koenzim I, Koenzim II, Diaforase, Kokarboksilase, Glutathion, Enzim Respirasi
b. Koenzim I, Koenzim A, sitokrom, Kokarboksilase, Glutaminase
c. Koenzim A, Oksidoreduktase, transferase, hidrolase
d. Diaforase, Kokarboksilase, amilase, protease, ligase dan oksigenase
e. Oksidoreduktase, transferase, hidrolase, liase, isomerase, dan ligase

9. Penggolongan enzim berdasarkan tempat bekerjanya antara? ...
a. Oksidoreduktase, transferase, hidrolase, liase, isomerase, dan ligase
b. Oksidase dan reduktase
c. Endoenzim dan Eksoenzim
d. Apoenzim dan Koenzim
e. Ribozim dan lisozim

10. Dalam penggolongan enzim, Endoenzim (enzim intraseluler) berfungsi yang paling tepat  adalah? 
a. enzim yang digunakan untuk proses sintesis di dalam sel dan untuk pembentukan NADP yang berguna untuk proses kehidupan sel
b. enzim yang digunakan untuk proses sintesis di dalam sel dan untuk pembentukan energi (ATP) yang berguna untuk proses kehidupan sel
c. enzim yang digunakan untuk proses sintesis di dalam sel dan untuk pembentukan NADH yang berguna untuk proses kehidupan sel
d. enzim yang digunakan untuk proses sintesis di dalam sel dan untuk pembentukan energi (ATP dan NADH) yang berguna untuk proses kehidupan sel
e. enzim yang digunakan untuk proses sintesis di dalam sel dan untuk pembentukan energi (ATP, NADP dan NADH) yang berguna untuk proses kehidupan sel

11. Penghambat enzim (inhibitor) adalah senyawa yang dapat menghambat enzim dengan cara penghambatan dengan mengikat pada sisi gugus prostetik enzim adalah.... ?
a. Penghambat bersaing (non-kompetitif)
b. Penghambat tidak bersaing (kompetitif)
c. Penghambat reseptor
d. Penghambat repesor (feed back inhibitor)
e. Penghambat alosterik

12. Dalam Nomenklatur enzim-enzim, Cara pemberian nama enzim yaitu...
a. Berdasarkan nama substrat yang dapat dirombak atau dikatalis oleh enzim tertentu, dan berdasarkan atas tipe reaksi yang dikatalisir
b. Berdasarkan jenis substratnya dan jenis reaksi kimianya.
c. Berdasarkan atas tipe reaksi ikatan kimia zat yang dikatalis
d. Berdasarkan nama substrat dan tipe aktifitasnya
e. Berdasarkan nama penemu zat atau penemu reaksi

13. Enzim ini mengkatalisis reaksi-reaksi hidrolisis, dengan contoh enzim, kecuali....
a. Karboksilesterase adalah hidrolase yang menghidrolisis gugusan ester karboksil.
b. Lipase adalah hidrolase yang menghidrolisis lemak (ester lipida).
c. Peptidase adalah hidrolase yang menghidrolisis protein dan polipeptida.
d. Lipase adalah hidrolase yang menghidrolisis lemak (ester lipida), Peptidase adalah hidrolase yang menghidrolisis protein dan polipeptida.
e. Ligase, enzim yang mengkatalisis reaksi pengabungan 2 molekul dengan dibebaskannya molekul pirofosfat dari nukleosida trifosfat.

14. Transferase mengkatalisis pemindahan gugusan molekul dari suatu molekul ke molekul yang lain, beberapa enzim sebagai berikut, kecuali...
a. Transaminase
b. isomerase
c. Transfosforilase
d. Transasilase
e. Transaminase, dan Transfosforilase

15. Enzim Dekarboksiliase (dekarboksilase) merupakan ?
a. enzim yang mengkatalisis reaksi pengambilan gugus karboksil.
b. enzim yang mengkatalisis reaksi pengambilan air dari malat sehingga dihasilkan fumarat.
c. hidrolase yang menghidrolisis protein dan polipeptida
d. hidrolase yang menghidrolisis lemak (ester lipida).
e. hidrolase yang menghidrolisis gugusan ester karboksil.

16. Komponen atau bahan-bahan anorganik pada Penggolongan kehidupan mikroorganisme adalah...
a. H2O (air)
b. hidrogen, nitrogen, kalium dn oksigen
c. Hidrogen, NH3 , H2S atau S
d. Kalsium, besi dan magnesium
e. mineral, vitamin dan elektrolit

17. Jasad yang menggunakan bahan-bahan organik pada Penggolongan kehidupan mikroorganisme adalah kecuali...
a. Fotolitrotrof, Fotoorganotrof, kemolitrotrof dan kemoorganotrof
b. Fotolitrotrof dan Fotoorganotrof
c. Fotoorganotrof dan kemolitrotrof
d. Fotoorganotrof dan Fotosintesis
e. Kemolitrotrof dan kemoorganotrof

18. Apakah yang dimaksud dengan fotolitrotrof dalam penggolongan jasad hidup...
a. jasad yang menggunakan sinar matahari sebagai energi primer dan menggunakan senyawa anorganik sebagai donor elektron untuk pertumbuhannya.
b. jasad yang tergolong dalam fotoorganotrof sumber energinya tergantung pada sinar matahari dengan menggunakan senyawa organik sebagai donor elektron.
c. jasad kemolitrotrof menggunakan sumber energi dari hasil oksidasi reduksi dari senyawa anorganik dan menggunakan senyawa anorganik sebagai donor elektron.
d. jasad-jasad kemoorganotrof tergantung dari hasil-hasil oksidasi reduksi dari senyawa organik sebagai donor elektron untuk pertumbuhannya.
e. jasad-jasad kemoorganotrof tergantung dari hasil-hasil oksidasi reduksi dari senyawa anorganik dan menggunakan senyawa anorganik sebagai donor elektron.

19. Berikut ini merupakan koenzim yang penting dalam metabolisme sel yaitu...
a. ATP (Adenosin Tri Phosfat)
b. NAD (Nicotinamide Adenine Dinucleotide) dan NADP (Nicotinamide Adenime Dinucliotide Phosphate).
c. DNA dan RNA
d. Mg, Cl, Fe, dan Cu
e. Koenzim I, Koenzim A, sitokrom

20. Dalam sifat kerja enzim, reaksinya menghasikan senyawa baru yang disebut....
a. Enzim baru
b. Holoenzim
c. Substrat
d. Sisi aktif aknzim
e. Produk

Kunci Jawaban Latihan Soal Mikrobiologi Sub Materi Metabolisme Mikroorganisme
1. A 
2. A 
3. B 
4. C 
5. E 
6. A 
7. D 
8. A 
9. C 
10. B 
11. E 
12. A 
13. E 
14. B 
15. A 
16. C 
17. D 
18. A 
19. B 
20. E

Saturday, March 30, 2019

Pembuatan Sediaan / Preparat Awetan Metode Irisan /Sayatan (Sectioning) dengan Metode Parafin


Mikroteknik adalah metode / prosedur pembuatan preparat atau spesimen mikroskopis yang akan diamati menggunakan mikroskop.  Dalam mikroteknik, benda yang akan diamati strukturnya disebut preparat atau sediaan.  
Sediaan mikroskopis berupa organisme renik, organ, jaringan, dan sel, baik yang bersifat sementara maupun permanen.  Sediaan/preparat agar dapat diamati dengan jelas dan bagus harus dipersiapkan dengan baik.

Macam-macam metode pembuatan sediaan preparat adalah: 
  • sediaan utuh (whole mount)
  • sediaan irisan /sayatan (Sectioning), 
  • sediaan uraian, 
  • sediaan ulasan / apus (smear)
  • sediaan rentang, 
  • sediaan gosok (untuk tulang), 
  • sediaan maserasi, 
  • sediaan remas (squsah) dan 
  • sediaan supravital.

Berikut ini akan dibahas khusus sediaan Sediaana Irisan /sayatan (Sectioning).
Sediaan Irisan /sayatan (Sectioning) yaitu membuat suatu irisan dengan tebal tertentu sehingga dapat diamati melalui mikroskop. Metode ini yang umum digunakan, Tebal-tipisnya sayatan bergantung pada tujuan pengambilan spesimen. Umumnya bersikat antara 6-15 mikron (1 mikron – 0,001 mm). Ukuran sayatan biasanya terbatas pada ukuran panjang dan lebar yaitu 3 x 2 cm. 

Ada 2 macam metode irisan yaitu : 
  • Metode irisan dengan menggunakan tangan dan 
  • metode irisan dengan menggunakan mikrotom. 

Pembuatan sediaan dengan menggunakan mikrotom yang mempunyai keuntungan yaitu tebal irisan dapat diatur menurut tujuan dan kehendak pengguna. 

Metode Irisan /sayatan (Sectioning), (dengan dan tanpa embeding), terdiri dari : 
  • Metode parafin, 
  • Metode seloidin, 
  • Metode resin, 
  • Metode beku, dan 
  • Metode embeding ganda. 

Pembuatan Preparat Metode parafin 

Metode parafin adalah metode pembuatan preparat dengan penanaman jaringan di dalam blok parafin untuk menghasilkan preparat jaringan yang tipis. Preparat parafin ini dilakukan karena jaringan merupakan bahan yang lunak. Metode paraffin merupakan metode Irisan /sayatan (Sectioning) yang banyak dan umum digunakan, dengan metode ini hampir semua jaringan dapat dipotong dan jaringan dalam berbagai kondisi dan berbagai elemen jaringan dapat diamati atau diteliti. Metode parafin merupakan preparat/ sediaan permanen baik pada tumbuhan ataupun pada hewan. Pembuatan sediaan dengan pemotongan jaringan menggunakan parafin dan mikrotom sebagai alat pemotongnya. 

Pembuatan preparat jaringan dengan metode parafin melalui beberapa tahapan, sebagai berikut: 

1. Pembiusan (Narcose
Pembiusan (Narcose)  merupakan proses yang bertujuan khusus untuk preparat hewan yaitu untuk memudahkan pengambilan jaringan atau bagian jaringan pada hewan. Pembiusan tidak perlu dilakukan jika yang akan diambil atau diamati adalah jaringan yang menyangkut kelenjar-kelenjar (endokrinologi), karena mungkin akan berpengaruh terhadap hormon-hormon yang terkandung di dalamnya. Senyawa kimia yang umumnya digunakan untuk pembiusan adalah: Eter, biasanya digunakan untuk membius kelinci, tikus, marmut, dan anjing. Kloroform, biasanya digunakan untuk membius kucing dan kera. Senyawa kimia lainnya yang dapat digunakan untuk pembiusan adalah prokain, Morfin HCl, aseton- CHCl3, methane, klereton, alkohol, kloral hidrat, kokain, dan garam magnesium. 

2. Diseksi (Collecting
Diseksi (Collecting) adalah proses pengambilan jaringan atau bagian jaringan dari sumber alami baik berupa tumbuhan ataupun hewan yang akan digunakan sebagai bahan dasar dalam mikroteknik. Pada jaringan hewan setelah dilakukan pengambilan diperlukan proses pencucian (washing). 

3. Pencucian (Washing
Pencucian (Washing) jaringan yang diambil pada hewan perlu dilakukan pencucian karena jaringan yang diambil pada hewan sering kali dalam keadaan kotor oleh darah atau kotoran seperti pada organ pencernaan. Selain itu jaringan hewan lebih cepat mengalami dehidrasi yang merusak jaringan, sehingga perlu secepat mungkin dimasukan ke dalam larutan fisiologis sebagai fiksasi sementara. Pencucian (Washing) merupakan tahap yang membedakan metode paraffin hewan dengan tumbuhan, pada pembuatan preparat tumbuhan tidak dilakukan pencucian. Pencucian pada pembuatan preparat hewan menggunakan larutan garam fisiologis. Larutan garam fisologis yang bisa dipakai: NaCl 0.8-0.9%, Larutan Ringer, dapat digunakan untuk hewan berdarah panas dan dingin. Komposisi larutan ringer adalah: (NaCl, CaCl, KCl, K2CO3, air untuk hewan berdarah panas), (NaCl, CaCl, KCl, Na2CO3, air untuk hewan berdarah dingin). NaCl merupakan larutan fisologis yang umumnya digunakan, biasanya dalam waktu 15 menit. Perlu diperhatikan, jangan sekali-kali dicuci dengan air, karena akan menyebabkan pembengkakan sel. Syarat dalam pengambilan objek ini adalah sebagai berikut: 1). objek yang diambil dalam kondisi sehat, 2). objek yang diambil tidak boleh rusak saat proses pengambilan, 3). menggunakan pisau yang tajam, 4). ukuran jaringan yang diambil kurang lebih 0.5 cm. 5. langsung dicuci dan difiksasi. 

4. Fiksasi (Fixation
Fiksasi (fixation) adalah usaha mempertahankan elemen-elemen sel atau jaringan agar tetap berada pada tempatnya dan tidak mengalami perubahan bentuk maupun ukuran. Media yang digunakan untuk fiksasi disebut dengan fiksatif. Fiksatif terdiri dari unsur-unsur kimia yang dibuat dalam bentuk larutan atau gas yang berfungsi agar jaringan tidak membusuk, dan dapat mempertahankan struktur jaringan. Fiksatif yang sering digunakan dalam pembuatan preparat tumbuhan adalah FAA (Formaldehyde Acetic Acid). Formula FAA untuk jaringan tumbuhan adalah: Ethil alkohol (50 ml), Asam asetat grasial (5 ml), Formalin (10 ml), Akuades (35 ml). FAA ini juga dapat digunakan untuk jaringan hewan. Formula FAA untuk jaringan hewan adalah: Formalin (10 ml), Alkohol 70% (90 ml), Asam asetat grasial (2 ml). 

Fiksasi (fixation) dilakukan selama 3 jam, tanpa pencucian.
Lama jaringan disimpan dalam larutan fiksatif tergantung pada: 1) Jenis jaringan, misalnya jaringan tendon perlu waktu lebih lama dari jaringan intestinum. 2). Tebal atau tipisnya jaringan atau ukuran jaringan, makin tebal dan besar jaringan yang difiksasi maka semakin lama waktu yang diperlukan. 3). Jenis fiksatif, setiap fiksatif memiliki kecepatan penetrasi yang berbeda. 

Tujuan dilakukan fiksasi dalam pembuatan preparat dengan menggunakan metode parafin adalah: 1). mematikan (menghentikan proses-proses metabolisme) jaringan dengan cepat, sedangkan keadaan sedikit banyaknya mendekati keadaan semula. 2). mencegah terjadinya kerusakan jaringan yang disebabkan oleh mikroorganisme ataupun kerusakan oleh jenis enzim yang terkandung oleh jaringan itu sendiri, yang dikenal dengan autoloisis. 3). Meningkatkan daya pewarnaan karena adanya bahan-bahan keras (mordant) yang merupakan komponen jaringan fiksatif. 

5. Aerasi
Aerasi merupakan proses penarikan udara dari dalam jaringan dengan cara di vakum, yang bertujuan untuk memudahkan fiksatif masuk ke dalam jaringan dengan sempurna,. Tahap ini diutamakan pada jaringan tumbuhan, karena sel pada jaringan hewan hanya terdiri dari membran sel dan vakuola yang kecil, sehingga udara yang tersimpan dalam sel atau jaringan hanya sedikit dan mudah keluar melalui membran sel yang tipis saat fiksasi. Sedangkan pada sel tumbuhan memiliki dinding sel dan vakuola yang besar, sehingga mengandung banyak udara yang sulit secara alami keluar dari sel atau jaringan melalui dinding sel yang tebal waktu fiksasi. 

6. Dehidrasi (Dehydration
Dehidrasi (dehydration) adalah proses penarikan air dari dalam jaringan dengan menggunakan bahan-bahan kimia tertentu. Dehidrasi (dehydration) bertujuan untuk mengeluarkan air dari dalam jaringan yang telah difiksasi. Proses dehidrasi merupakan serangkaian proses dengan cara memasukan sampel ke dalam larutan dehidrasi secara berseri dari konsentrasi rendah sampai konsentrasi tinggi dengan mengurai konsentrasi air. Dehidran yang paling umum digunakan pada mikroteknik dengan metode paraffin adalah alkohol. Jenis dehidran lain adalah dioksan, N-butyl alcohol, aniline oil dan bergamot oil. Alkohol merupakan dehidran yang umum digunakan, karena relatif lebih murah dan mudah diperoleh, tapi mampu menghasilkan hasil yang baik, bahkan untuk jenis-jenis jaringan-jaringan lunak seperti otak, sumsum tulang belakang, dan embrio. Dalam penggunaan alkohol dipakai serial dengan konsentrasi yang berbeda, dimulai dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi (35%-50%-70%-80%-95%-100%). Lama perendaman tergantung untuk masing-masing konsetrasi berkisar 1-6 jam. Alcohol 70% sebagai stoping point, jaringan dimalamkan. Proses dehidrasi dalam berbagai konsentrasi alkohol dilakukan setingkat demi setingkat. Tujuannya adalah untuk menjaga agar tidak terjadi perubahan secara tiba-tiba dalam terhadap sel jaringan, sehingga perubahan struktur sel yang terjadi sekecil mungkin. Apabila proses dehidrasi ini tidak sempurna berarti masih ada molekul air dari dalam jaringan. Ketidaksempurnaan proses dehidrasi ini dapat diketahui dengan jelas setelah jaringan dimasukan ke dalam zat penjernih, dimana jaringan tidak menjadi transparan walaupun jaringan telah lama dalam larutan penjernih. Jika terjadi hal yang demikian, maka jaringan harus dikembalikan ke dehidran. 

7. Penjernihan (Clearing
Penjernihan (Clearing) merupakan proses harus segera dilakukan setelah dehidrasi. Tujuan dari penjernihan ini adalah menggantikan tempat alkohol sementara dalam jaringan yang telah mengalami proses dehidrasi dengan suatu solven atau medium penjernih sebelum proses penanaman dalam paraffin. Medium penjernih ini akan menjernihkan atau mentranparankan jaringan agar kemudian dapat terwarnai dengan baik dan memperlihatkan warna sesuai dengan warna pewarnanya. Lama jaringan dalam medium penjernih tergantung pada: 

1. Ketebalan dan tingkat kepadatan jaringan. 
2. jenis reagen yang dipakai. 
3. bila dehidrasi telah sempurna, maka lamnya xilol atau benzene adalah setengah hingga tiga jam. Bila dibiarkan cukup lama dalam penjernih, maka jaringan akan mengeras dan rapuh yang tentunya sulit untuk disayat. 
4. Jenis jaringan, seperti syaraf atau kelenjar limfa sebaiknya penjernih dalam menggunakan minyak cadar atau kloroform, karena jaringan tersebut cenderung menjadi keras atau getas bila dijernihkan dengan xilol atau benzene. 

Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagi penjernih: minyak aniline, Benzene, karbon tetraklorida, karbon bisulfida, minyak kayu cadar, kloroform, minyak cengkeh, Xylol. 

8. Infiltrasi (Infiltration
Infiltrasi (Infiltration) adalah suatu usaha menyusupkan media penanaman (embedding media) ke dalam jaringan dengan jalan menggantikan kedudukan dehidran dan bahan penjernih (clearing agents). Media penanaman yang digunakan dalam infiltrasi ini adalah paraffin. Proses infiltrasi ini umumnya dilakukan di dalam oven yang suhunya dapat diatur sesuai titik leleh jenis paraffin yang digunakan. Pada jaringan hewan bisa langsung digunakan paraffin keras dengan titik leleh 56-58C. 

Dalam proses infiltrasi sebaiknya jaringan jangan langsung dimasukan ke dalam paraffin murni, tetapi sebelum paraffin murni jaringan dimasukkan terlebih dahulu ke dalam campuran bahan penjernih dan paraffin murni dengan perbandingkan yang sama. Waktu yang diperlukan jaringan campuran ini terlalu lama cukup berkisar antara 10-30 menit saja tergantung besar kecilnya jaringan. Tujuan dari semua ini adalah untuk menghindari jaringan dari prubshsn lingkungsn yang sangat mendadak. Perubahan-perubahan yang mendadak ini dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan itu sendiri, seperti jaringan menjadi sangat mengkerut,dll.
Setelah dalam campuran paraffin dan bahan penjernih, jaringan baru dipindahkan ke paraffin murni sebanyak tiga kali ganti yang masing-masingnya berkisar antara 30-60 menit. Usahakan jaringan jangan terlalu lama ditinggalkan dalam oven. Tujuan dari tahap infiltrasi ini adalah untuk mengisi jaringan dengan paraffin sebagi pengikat jaringan agar tetap memiliki bentuk dan struktur yang sama seperti hidup. 

9. Penanaman (Embedding
Pada saat memasukan harus diperhatikan bagaimana posisi jaringan/ organ yang akan dipotong, apakan melintang atau membujur, disesuaikan pada saat menanam ke blog. Cara memasukan. Kotak yang sudah jadi, lilin yang sudah cair. Kita masukan penuh, tunggu bberpa menit, hingga mengeras bagian bawah, sehingga organ yang dimasukan pad posisi tengah blok. Bagian atas blog akan mencekung hingga harus diisi lagi lilin yg pinggir di encerkan dengan dipanaskan. Selanjutkan dibiarkan mengering langsung masukan dan air es. Selanjutnya bisa di simpan hingga siap untuk di potong. (disini juga posisi stoping point. Ini blog harus dilekatkan dengan kayu. Tempengn dengan kayu dengan cara dipanaskan. Selnjutnya siap dipotong 
Embedding atau penanaman merupakan proses memasukan atau penanaman jaringan ke dalam balok-balik paraffin (cetakan) sehingga memudahkan proses penyayatan dengan bantuan mikrotom. Tujuan dari tahap ini adalah untuk membuat balok paraffin yang berisi jaringan yang akan dibuat preparat permanen. Paraffin yang digunakan untuk menanam jaringan harus memiliki titik leleh yang sama dengan paraffin yang digunakan waktu infiltrasi. Paraffin ketiga yang dipakai pada infiltrasi dapat digunakan langsung untuk penanaman dengan syarat memang sudah bersih dari bahan penjernih.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penanaman adalah: 

Parafin yang digunakan benar-benar bersih dan murni, Peralatan yang digunakan benar-benar khusus untuk prose situ saja, Pembuatan balok sebaiknya dilakukan dekat oven atau lampu Bunsen agar lebih cepat, susun jaringan sesuai dengan orientasi yang direncanakan, Jaringan sebaiknya diberi label untuk menghindari kesalahan atau bertukar, Untuk jenis-jenis jaringan yang halus perlu dikerjakan di bawah lup, Jangan sampai ada gelembung udara pada balok paraffin yang dibuat terutama dekat jaringan. 

10. Penyayatan (Sectioning
Atur posisi pada mikrotom sehingga 20 mikron, standart 8 mikron. Hasilnya berupa fita/band. Siakan wadah yang tepat, atau di atas air hangat/tidak panas. Atau diambil langsung pakai pinset. Letakan di aats gelas objek. Skil) sebelum di potong sudah ada lem. Bahan dasarnya putih telur (hop) hingga sampi kering. Gelas objeknya sudah di rendam dalam alkohol. Di keringkan angin Selanjut di letak dalm hote plate sampai kering. Suhu 40 derjat dan mengembang. Pengirisan menggulung, atau putus.. gagal.. solusi di gosok dengan batu es. Proses penyayatan adalah pembuatan sayatan atau pita dari balok parafin yang telah terbentuk dengan menggunakan mikrotom, yang bertujuan untuk membuat sayatan jaringan dan dapat dilihat jelas dari dalam mikroskop. Pembuatan irisan dengan metode parafin memiliki beberapa keuntungan, diantaranya adalah yaitu proses embedding lebih cepat dan lebih simpel, material embedding dapat disimpan dalam waktu yang lama pada kondisi kering, serta dapat membuat irisan yang tipis. Embedding menggunakan paraffin sangat baik digunakan untuk studi embriologi, anatomi dan sitologi (Khasim, 2002). Mikrotom adalah mesin untuk mengiris spesimen biologi menjadi bagian yang sangat tipis untuk pemeriksaan mikroskop. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses penyayatan ini adalah: 
· Mikrotom harus seberat mungkin. 
· Meja tempat mikrotom harus stabil 
· Pisau harus cocok dengan mikrotom 
· Posisi pisau harus stabil 
· Mata bisau harus tajam, bersih dan suhunya harus sama dengan balok jaringan yang akan disayat. 

11. Penempelan dan Afiksasi (Afixing
Affixing adalah proses pelekatan atau penempatan sayatan jaringan pada kaca objek dengan bantuan media pelekat tertentu. Tujuan penempelan ini adalah untuk menempelkan pita paraffin yang sudah berisi sayatan jaringan pada kaca objek. Media pelekat yang umumnya digunakan adalam mayers albumen yang formulanya adalah sebagai berikut 

Putih telur sebanyak 50 bagian
Gliserin sebanyak 50 bagian 
Kristal Tymol beberapa butir
Akuadest beberapa tetes 

12. Deparafinasi dan Pewarnaan (Staining
Deparafinasi adalah suatu tahap menjelang proses pewarnaan dengan menggunakan xilol untuk membersihkan paraffin dari jaringan dan kaca objek. Pengerjaan deparafinasi aserial atau berkelanjutan dengan pengerjaan pewarnaan. Tujuan dari tahap ini untuk membersihkan jaringan dan kaca objek dari parafin. Pewarnaan merupakan suatu tahap dalam mikroteknik untuk mempertajam atau memperjelas berbagai elemen jaringan, terutama sel-selnya, sehingga dapat dibedakan dan ditelaah dengan mikroskop. tanpa pewarnaan, jaringan akan transparan sehingga sulit untuk diamati.
Pewarnaan akan memperjelas rinci suatu jaringan sehinnga mudah untuk dipelajari. Pewarnaan dibedakan antara non vital dengan vital
a. Pewarnaan non vital, pewarnaan dilakukan setelah jaringan dimatikan melalui fiksasi. Teknik ini merupakan teknik dan cara yang paling alzim digunakan, terutama untuk pekerjaan rutin sehari-hari, terutama pembuatan preparat/sediaan praktikum bagi mahasiswa. 
b. Pewarnaan vital, maka proses pewarnaan dilakukan selagi jaringan/sel masih dalam keadaan hidup. Sel-sel yang masih hidup tersebut diharapkan mampu untuk menyerap warna maupun mengikat/memfagosit partikel-partikel zat warna. Dengan demikian zat warna yang hendaknya yang tidak bersifat toksik bagi sel-sel tersebut. Sebagai contoh, tinta china dan lithium carmine secara umum digunakan untuk mengamati penyebaran sifat sel-sel RES, karena sel-sel tersebut mampu memfagosit zat warna. 
c. Pewarnaan supra-vital diharapkan pada hasil kultur sel dan jaringan
Dalam arti yang sangat luas, zat warna mencakup bahan organic dan bahan anorganik, yang mengadakan ikatan dengan jaringan lebih jelas untuk diamati. Ditinjau dari berbagai segi, maka zat warna dapat kita bedakan atau kelompokan pada kategori-kategori tertentu. Berikut ini adalah pembagian zat warna bergasarkan berbagai kategori tersebut. 

1. Berdasarkan sifatnya, meliputi: 
a. Zat warna asam, adalah garam-garam dari asam-asam pembawa warna dengan radikal basa yang tidak berwarna. Contoh: acid fuchsin, eosin, dan lain sebagainya 
b. Zat warna basa, adalah garam-garam dari basa pembawa warna dengan radikal asam yang tidak berwarna. 

2. Berdasarkan asalnya, meliputi: 
a. Zat warna alami, berupa zat warna yang diperoleh dari alam, baik dari tumbuhan maupun dari hewan, contoh hematokillin, adalah zat warna yang berasal dari tumbuhan (Hehatoxylin campechianum) 
b. Zat warna sintetis, mencakup jenis-jenis zat warna yang dibuat di pabrik. Contoh: basic fuchsin, dibuat dari campuran analin dan paratoluidin. 

3. Berdasarkan kemampuan mengenai warna (staining power), meliputi: 
a. Zat warna substantife Jenis zat warna yang mampu mewarnai jaringan secara langsung. Contoh janus green B, Neutral red. 
b. Zat warna ajektif 
Jenis zat warna yang pada penggunaannya, agar mampu mewarnai jaringan, harus menggunakan bantuan mordan. Contoh hematoxillin dari formula Ehrlich. Pada formula tersebut diberikan pula kalium alumunium secara berlebihan yang berfungsi sebagai mordan. 

4. Berdasarkan jumlah/ komposisi zat warna yang digunakan,meliputi: 
a. Pewarna tunggal (single staining), hanya menggunakan satu jenis zat warna, contohnya untuk melihat polysacharida sulphate ester serta hyaluronic, maka digunakan zat warna tunggal gentian violet. 
b. Pewarna ganda/ rangkap (double staining, menggunakan dua jenis zat warna, contoh pada system pewarnaan hematoxilin-eosin 
c. Pewarnaan rangkap tiga (triple staining), menggunakan tiga jenis zat warna, contohnya formula Marllory triple staining yang menggunakan zat-zat warna acid fuchsin, aniline blue serta orange G. 
d. Pewarnaan rangkap empat, jarang digunakan dalam kerja rutin, kecuali untuk tujuan khusus. 

5. Berdasarkan struktur jaringan yang akan diwarnai, meliputi:  
a. Pewarnaan umum, seperti Hematoxillin eosin, fastgreen safranin 
b. Pewarnaan khusus, seperti pewarnaan jaringan ikat yaitu Molary azan, aniline blue, asam phospatungistik, korhensen, dan lain-lain.