Berisi tentang semua yang berhubungan dengan tridarma perguruan tinggi: pendidikan/ pengajaran, pengabdian dan penelitian

Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 23 Februari 2016

Makna yang Mendalam dari Tunggu Tubang Suku Semende

Tidak ada komentar :
Istilah tunggu tubang di suku Semendo dari beberapa referensi yang saya baca. Tunggu tubang adalah  sistem struktur kedudukan di suku semende dimana seorang wanita yang paling tua memiliki hak mengurus, mengelola, menikmati hasil dan menjaga warisan berupa rumah dan sawah /kebun tetapi tidak ada hak memiliki apalagi akan menjual warisan tersebut, tidak boleh.  Tunggu tubang juga tempat pulang anggota keluarga apabila untuk urusan keluarga, ziarah, hajatan dan lainnya. selain itu tunggu tubang tidak bisa dipisahkan kata meraje. 


Menurut pandanganku dari segi mempertahankan harta dan warisan.  tunggu tubang adalah pemikiran yang luar biasa, karena mampu diterapkan hingga 3 abad. pemikiran para puyang awak, adalah solusi melepaskan masalah pada jaman dulu, tetapi efek di keturunan semende sangat terasa. menurutku tunggu tubang adalah salah satu cara untuk mempertahankan tanah air tidak diambil oleh pihak lain. atau merupakan cara mencegah penjajahan. karena saat itu kita dijajah oleh belanda. jika benar-benar tunggu tubang diterapkan. rumah dan sawah tidak akan perna pindah tangan ke orang lain atau lain suku.. karena selalu diturunkan ke anak perempuan yang paling tua. selanjutnya puyang awak sudah memplot, bahwa tanah anak cucungnya di bukit ke 7 atau tepatnya di bukit barisan selatan hingga ke banten bagian barat. Tanah tunggu tubang akan selalu terjaga dan anak tengah atau yang turun akan membuka lahan baru untuk tunggu tubang -tunggu tubang baru. 


Dari beberapa pandangan Selain itu tunggu tubang secara adat utamanya adalah mewujutkan tata norma dan nilai kehidupan, menghormati dan menghargai wanita pada posisi yang terhormat, kemudian mengajarkan pengolahan ekonomi serta  tanggung jawab terhadap orang tua, saudara dan keluarga besar. 

Pengantin Wanita di Suku Semendo dan adat Palembang
Foto : Rasuane Noor 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar