Tridarma perguruan tinggi: pendidikan/ pengajaran, pengabdian dan penelitian

Tuesday, April 16, 2019

Tumbangnya Sang Bujang Petualang : Bebas Malaria Prestasi Bangsa

 Apa itu malaria? Sepertinya mustahil ya jika masyarakat belum tau tentang malaria, apalagi masyarakat yang suka traveling dan petualang. Petualang harus benar-benar tau tentang malaria. Bisa jadi sudah tau, malaria yaitu hanya suatu penyakit, akan tetapi masyarakat belum begitu tau secara detail apa akibat dan penyebab penyakit malaria itu. 

Jadi Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit protozoa obligat intraseluler dari genus Plasmodium. Penularan penyakit malaria dilakukan oleh nyamuk betina dari genus Anopheles. Nah berikut ini saya sebagai petualang yang suka jalan-jalan akan bercerita tentang perjuangku untuk Bebas Malaria sebagai prestasi Bangsa. Hehe.. "muluk banget ya sampai bawa bangsa segala.. yukk disimak"


Yup, berhubungan dengan malaria saya akan bercerita tentang pengalaman antara hidup dan mati saya akibat menderita penyakit malaria apalagi saya yang notabene adalah lahir dan besar di gunung layaknya bolang : bocah petualang yang menjelma bulang : bujang petualang yang hoby menjelajah daerah baru yang belum perna saya kunjungi. 

Sang Petualang sebelum tumbang karena Malaria

Cerita tumbangnya sang petualang berikut sejalan dengan hoby saya dalam ngetrip ngebolang atau istilah kerennya travelling tetapi saya lebih cocoknya backpackeran. Teman-teman saya sering memanggil saya dengan panggilan Bulang = Bujang petualang, mengapa demikian karena saya secara umur sudah kepala 3 tetapi masih saja suka jalan - jalan dan masih single. Hehe itu dulu... sekarang udah jadi LMI = Lelaki manut istri.. ckckk makin parah ya.. nah petualang harus tepar karena Malaria. Kasihan... 


Awal ceritanya yaitu tepat pertengahan bulan Agustus 2017 saya dilarikan ke rumah sakit karena sudah mengalami sakit kepala hebat dan demam panas tinggi. Sebelumnya selama 3 hari saya hanya beristirahat di kamar dengan kondisi badan panas dingin berfluktuasi dan sakit kepala luar biasa. Saat itu saya yang latar belakang kuliah di kesehatan, sudah berasumsi bahwa saya tumbang nih, saya tumbang karena 3 ciri penyakit yang banyak diderita orang yaitu typus, Demam Berdarah atau malaria. Jika saya kecapean demamnya tidak akan turun naik seperti ini. "Oh ternyata Tuhan sang petualang harus tumbang". 


Dari demam dan gejalanya itu, pada hari ke tiga saya tidak tahan lagi menderita sakit tersebut. Sehingga saya dibawa ke rumah sakit, saat itu saya langsung dibawa oleh keluarga ke UGD (Unit Gawat Darurat) akan tetapi setelah di UGD saya malah dianjurkan untuk berobat ke Klinik Dokter Praktek di Rumah Sakit tersebut. Oleh dokter saya langsung diperiksa dan di cek Laboratorium. Dari hasil cek laboratorium, saya dinyatakan positif terkena malaria dengan terinfeksi plasmodium vivax, positif salmonela typosa dan kondisi trombosit yang rendah yaitu sekitar 90 ribu permikroliter. "Keadaan saya saat itu sangat berbading terbalik dari seorang Bulang yang suka mendaki gunung lewati lembah ke samudera berpetualang. Saya kalah menyerah dan tumbang tak berdaya".

Dengan kondisi tersebut saya langsung direkomendasikan untuk rawat inap. Malaria dan types yang saya derita harus diobati. Selama 4 hari saya dirawat di rumah sakit, kondisi tubuh terus membaik dan sayapun dianjurkan pulang setelah trombosit naik diatas 120 ribu.

Selama dirumah sakit saya dijenguk oleh teman dan sanak saudara handai tolan mereka banyak sekali yang menyampaikan ejekan dan seruan kaget sebagai penyemangat karena saya yang sangat jarang sakit: "lu bisa sakit juga wan" "raja trip kalah dengan malaria haha cemen" "petualang ternyata bisa tepar" "petualanganmu sudah berakhir,;sobat!" "bulang : bujang petualang sudah KO" "komandan trip sudah tumbang" "ini betanda ayo nikah aja" "masak disuntik nyamuk saja sudah tumbang" dan lainnya banyak sekali gurauan dari teman-teman saat menjenguk saya sakit tersebut. 
Saat teman kerja menjenguk saya sakit malaria, petualang sudah hampir pulih
Selepas dirawat di rumah sakit, kondisi badan sudah membaik, cek laboratorium di sampel darah untuk kuman typus dan malaria sudah tidak ditemukan lagi. saya kembali beraktivitas seperti biasa sebagai tenaga pengajar, saya kembali ke rumah kost yang berjarak 50 km dari rumah keluarga besar. Walau kondisi belum begitu fit tetapi saya sudah bisa bekerja dengan baik. Saya merasa bahwa penyakit malaria dan typusnya sudah sembuh sehingga saya dapat berpetualang lagi, menikmati keindahan alam yang belum saya jamah. Sayapun akan melaksanakan rencana petualangan yang belum terlaksana akan tetapi keluarga masih melarang untuk saya beraktivitas berlebihan karena kawatir penyakit typus dan malaria dapat kambuh kembali.

Setelah sebulan dari sakit malaria tersebut, keinginan untuk ngtrip kembali bergelora hingga saya bersama teman dari Jawa yang saat itu sedang berkunjung ke Lampung untuk mengantarkan mereka jalan-jalan tempat wisata di sekitar Bandar Lampung hingga trip petualang kami dengan motoran ke Taman Nasional Way Kambas.
Saat petualang tumbang pertama karena malaria menemui Gajah di Way Kambas 
Nah setelah pulang dari petualangan ke Way Kambas, tubuh mulai merasakan ada gejolak berontak yang tidak nyaman yang mana badan terasa lelah sekali, pusing dan malamnya mulai demam. Saat itu sudah terbesit "wah typus dan malaria kambuh, duh obat obat malaria sudah habis ngga ada stok tapi obat typus masih ada stock" Akhirnya saya konsumsi obat anti typus, multivitamin dan banyak istirahat untuk mengembalikan tubuh kelelah tersebut. Dalam hitungan 3 hari tubuh saya mulai memperlihatkan pulih kembali. "Demamku ini karena typus bukan karena malaria. Jadi sakitku ngga jadi kambuh syukurlah" itu dalam benak saya saat itu.

Selanjutnya seminggu setelah dari itu saya kembali untuk berolahraga yaitu bermain badminton yang saya geluti sejak dari kuliah dulu. Sehari setelah bermain badminton tersebut tubuh saya ternyata kembali bergejolak lebih parah dari yang seminggu sebelumnya, "petualang akan tumbang lagi nih" itu gumamku. Lalu saya coba untuk beristirahat dan mengkonsumsi obat typus dan multivitamin kembali akan tetapi tidak ada menandakan perubahan. Saya mulai resah dan kawatir "waduh kayaknya typus atau malaria ini benar-benar kambuh".

Setelah 2 hari sakit saya tidak ada perubahan bahkan makin memburuk, akhirnya asumsi makin kuat ini adalah penyakit malaria yang kambuh kembali, akhirnya saya memutuskan untuk mencari obat malaria di apotek. Karena pada saat saya di rawat di rumah sakit saya diberi obat malaria jenis primaquin. Sehingga saya akan mencari obat tersebut di apotik karena kondisi lemas saya tidak kuat membawa motor sendiri, sang petualang sudah mulaI tumbang lagi. Akhirnya saya meminta teman samping kost untuk mencarikan obat malaria. Tapi apa daya dia tidak mendapatkan obat tersebut, dia sudah mencoba ke beberapa apotik untuk mecari obat malaria tetapi hasilnya nihil, akhirnya saya dibonceng teman tersebut untuk mencari obat malaria di apotek lain. Dari sekitar 12 apotik kami temui mereka semua menjawab obat malaria : kosong.
Akhirnya saya kembali ke kost untuk istirahat saja. Saya sempat berpikir dulu obat malaria dijual bebas seperti pil kina, pil segitiga, reboquin, kloroquin dan sebagainya, kok sekelas kota ini tidak ada apotik satupun yang menjualnya lagi, apa sudah tidak ada lagi orang yang kena sakit malaria atau apa karena kota ini kota yang jauh dari pantai dan gunung sehingga tidak ada yang menderita malaria di kota ini? Selanjutnya Saya hanya mengkonsumsi obat typus, multivitamin dan berusaha tidur. Sang petualang berusaha untuk kuat.

Malam itu saya hanya berusaha untuk tidur dengan menahan sakit kepala dan demam. Dalam hati apakah malaria ini kambuh lagi, karena sebelumnya saya yakin kalau terkena malaria tidak akan kambuh lagi. Dalam kondisi yang tak menentu malam itu saya lewati yang akhirnya pagipun tiba.

Pagi itu tubuh masih lemes dan demamnya sudah turun, Saya merasa sudah agak membaik walau sebenarnya MALARIA ini sangat menyiksaku. Pagi itu saya meminta kembali kepada teman samping kost untuk membantu membelikan nasi uduk untuk sarapan pagi, setelah dibelikan nasi uduk tetapi malah mulut terasa pahit sekali dan sulit untuk menelan. Akan tetapi sedikit demi sedikit saya paksa untuk isi perut. Sambil menyakinkan diri "Petualang harus kuat dan mampu bertahan demi kehidupan". Selanjutnya karena kondisi yang semakin tidak menentu saya hanya untuk tidur saja.

Sekitar pukul 9-an, ternyata teman kerja datang ke kost, karena dia mencari saya di kantor tidak ada. Saat itu dia sangat kaget melihat kondisi saya "wah bapak badannya panas sekali, bapak malarianya kambuh lagi ya?, bapak harus ke rumah sakit nih" keadaan yang demikian sehingga dia berusaha untuk mencari pinjaman mobil dan membawa saya ke rumah sakit.

Di rumah sakit saya langsung dibawa ke UGD, oleh dokter jaga, saya disarankan untuk dirawat inap tetapi saya meminta kepada dokter untuk cek laboratorium terlebih dahulu sehingga tau apa yang menyebabkan saya sakitnya terasa lebih parah ini apakah karena typus atau malaria. Akan tetapi dokter menyampaikan kalau di rumah sakit ini cek lab dilakukan setelah pasien dirawat inap dan sampel darahnya dikirim ke lab rekanan karena di rumah sakit ini belum ada lab lengkap seperti itu. Akhirnya saya meminta kepada teman yang menghantarkan saya ke rumah sakit yang merawat saya bulan lalu atau sekaligus mengantar saya ke rumah. Sayapun tidak jadi dirawat di rumah sakit yang baru didatangi ini.

Kami kembali ke mobil, Setelah di mobil kondisi tubuh saya semakin parah, lemas, sakit kepala, bernapasku makin berat, saya untuk mengangkat kepala terasa berat. Saya sudah tidak bisa berpikir jernih penyakit apa yang menyerang saya ini apakah malaria atau penyakit lain. Akhirnya teman tersebut siap meluncur ke rumah sakit di kota besar untuk mengantar saya yang semakin tak menentu. Akan tetapi setelah dia telponan dengan pemilik mobil ternyata tidak diizinkan untuk mobilnya dibawa jauh, akhirnya dia berusaha mencari pinjaman mobil. Hingga akhirnya teman tersebut tau kalau ada teman lain yang rumahnya juga satu kota dengan saya yang selalu membawa mobil PP untuk kerja.

Atas kesepakatan mereka, Sayapun dibawah oleh teman lain tersebut untuk dibawah ke rumah sakit tempat saya dirawat bulan lalu. Selama di perjalanan kurang lebih satu jam, saya tidak tau rasanya sakit kepala, lemas, panas dingin dan yang paling sulit beberapa kali sesak napas. Saat itu saya berpikir mungkin nyawa akan segera dicabut ini. Saya menahan sakit, memejamkan mata hanya bisa bertasbih dan bertakbir. Petualang sudah benar-benar tumbang entah ini karena malaria atau karena penyakit yang baru.

Akhirnya sayapun sampai di rumah sakit dan sudah terbaring di UGD, setelah beberapa saat di UGD sambil menunggu hasil laboratorium, tidak tau suntikan apa yang diberikan paramedis di UGD tersebut seakan-akan tenaga saya yang sudah hilang, kembali bergairah. Keluarga sayapun sudah mendampingi saya, hingga akhirnya saya disarankan untuk rawat jalan saja dan saya hanya beberapa jam saja di UGD tersebut, sayapun pulang kerumah bersama keluarga. Dokter menyampaikan bahwa hasil lab negatif typus dan untuk malaria tidak ditemukan kumannya namun memang sulit jika tidak pada kondisi demam puncak untuk menemukan kuman malaria tersebut. Saya hanya diberikan obatnya untuk rawat jalan.

Setelah di rumah ternyata kondisi tubuh tidak menunjukan pemulihan signifikan saya semakin sulit untuk tidur dan jantung berdebar hebat bahkan sampai sulit untuk bernapas. Hingga kurang lebih 24 jam di rumah saya kembali dilarikan ke rumah sakit. Kali ini saya sudah merasakan benar-benar lemas dan seakan-akan napas sudah diujung dan sulit sekali untuk bernapas. Saya hanya pasrah dan berpikir nyawaku akan segera melayang. Saya pun seakan akan antara sadar dan tidar sadar karena sulit untuk bernapas. Pokoknya petualang sudah roboh tumbang.

Saat itu sayapun mulai merasakan mendapatkan energi setelah mendapatkan suntikan di pantat dari tenaga medis, Obat yang disuntikan tersebut memberikan efek yang seolah-olah energi itu berjalan satu titik menyebar ke seluruh tubuh dan saya dapat bernapas dengan lega. Keluarga menyampaikan dari kata Dokter, bahwa obat yang disuntikan itu sangat pekat dan rasanya sangat sakit, akan tetapi saya tidak merasakan sakit akibat suntikan obat tersebut, mungkin hal tersebut karena sudah sangking lemasnya mengakibatkan tidak ada rasa sakit lagi. Ternyata obat yang disuntikan tersebut adalah obat malaria dosis tinggi.

Hari ke hari kondisi saya berangsur semakin membaik. Obat malaria dosis tinggi tersebut disuntikan setiap 8 jam sekali dan semakin pulih saya semakin merasakan alangkat sakitnya ketika obat tersebut masuk di otot pantat. Obat tersebut diberikan seminggu nonstop. Sayapun dirawat hampir seminggu dan alhamdulillah badan kembali pulih, jumlah trombositpun sudah kembali mendekati normal, yang awal masuk rumah sakit dibawah 60 ribu per mikroliter tiap hari berangsung naik hingga diatas 120 ribu permikroliter. Setelah diskusi dengan dokter, sakit yang saya alami adalah dari malaria yang saya idap pada bulan lalu yang penyembuhannya belum tuntas. Sedangkan untuk typesnya sudah bersih sejak awal ceknya juga sudah negatif tetapi gejalanya itu karena malarianya, untuk deteksi malaria jika pada saat tidak puncaknya sulit ditemukan karena kumannya di darah tapi gejalanya dapat dilihat.

Alhamdulillah petualang kembali pulih dan sejak itu saya diwanti wanti oleh keluarga untuk berhenti membulang dan segera pikirkan waktu untuk menikah. Ini adalah sentilan untuk saya agar segera menjalankan sunah rasul. Hanya karena kuman malaria yang disuntikan nyamuk seorang yang petualang yang menjelajah puncak gunung tertinggi dan menyelami lautan harus tumbang. Sayapun bermusahabah dan meminta petunjuk kepada Allah, alhamdulillah berselang dua bulan dari sakit saya itu, kami melangsungkan lamaran untuk pernikahan saya.

Pada saat selepas sakit malaria tersebut, saya banyak mengulas bagaimana saya dapat sakit tersebut yang menurut saya penyakit ini amat dahsyat menggerogoti tubuh dalam hitungan hari karena seumur hidup saya tidak perna merasakan sakit yang demikian.

Telusuk dan telusik ternyata 1 bulan sebelum sakit malaria, saya ada kegiatan camping 1 malam di pulau Permata di sekitar pesisir teluk Lampung bersama teman-teman petualangan ke gunung Semeru dulu. Setelah itu, 2 minggu sebelum sakit saya kembali camping lagi selama 1 malam di pantai Ketapang bersama teman teman petualang dan pecinta Alam Lampung (T3ampal).

Setelah dari camping saya full kegiatan satu minggu di Lampung Barat dalam acara Festival Skalabrak. Kegiatan tersebut cukup melelahkan dan badan sudah terasa nyilu-nyilu. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, semalam sebelum pulang ke rumah saya merasakan demam dan sakit kepala dan saat perjalanan pulangpun badan sudah makin tidak enak, hingga demam sampai 3 hari di rumah setelah pulang dari kegiatan tersebut.

Telusur punya telusur ternyata pesisir Teluk Lampung merupakan daerah yang tergolong endemik malaria. Terutama di daerah Pesisir Kabupaten Pesawaran, Bandar Lampung dan Lampung Selatan. Bahkan 80% penderita malaria di Lampung berasal dari Kabupaten Pesawaran. Jadi saya terjangkit malaria tersebut kemungkinan besar dari hasil camping saya di wilayah pesisir Pantai Kabupaten Pesawaran. 
gambar siklus hidup plasmodium penyebab malaria 
Selanjutnya Malaria, masa inkubasinya sejak awal digigit nyamuk hingga sakit terjadi beberapa hari yaitu sekitar 2-3 minggu, ini akan makin parah jika kondisi tubuh dalam tidak fit. keadaan ini sangat sejalan dengan sakit malaria yang saya alami.

Dari pengalaman saya tersebut sangat disarankan jika akan berwisata ke tempat-tempat baru sebaiknya mengkonsumsi obat anti malaria. Selanjutnya setelah 3-4 minggu dari berwisata tersebut minum kembali obat anti malaria serta selalu menjaga kondisi tubuh tetap fit.

Seorang yang badan yang besar, kuat dan kekar dapat tumbang karena malaria, apalagi seorang yang biasa saja, jadi harus selalu waspada. Karena bukan saja membuat tumbangnya sang petualang bahkan penyakit malaria mengancam nyawa jika terlambat ditangani. Alhamdulillah saya mampu untuk bangkit dan sehat setelah terkena malaria selama 3 bulan. Lepas dari jeratan penyakit malaria, Bagi saya ini adalah prestasi yang luar biasa. Dalam menggalakan Bebas Malaria Prestasi Bangsa. Semoga kedepannya tidak terkena lagi. Aamiin..

Sehingga sekarang saya dapat fokus untuk bekerja dan keluarga. akan tetapi efek dari sakit itu, selepas sakit malaria yang saya derita itu, sampai sekarang saya sudah tidak mengadakan trip atau berpetualang lagi untuk menjelajah  daerah baru. Ajakan dan tawaran teman-teman petualang lainnya selalu saya tolak karena seakan-seakan jiwa petualangnya mulai surut bahkan sudah mendekati kering. "Maafkan saya, teman-teman petualang" apakah sang petualang ini sudah benar-benar tumbang atau akan bangkit lagi.. hanya waktu yang akan berkata.. (jadi baper).
Dibalik cerita tumbangnya sang petualang, tepat hari senin tanggal 15 april 2018 diadakan acara temu blogger yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di hotel Novotel Bandar Lampung yang temanya "Bebas Malaria Prestasi Bangsa"  dari pertemuan sehari tersebut banyak sekali ilmu yang saya dapatkan dan terpentingnya yaitu semangat saya untuk terus berkontribusi untuk bersama-sama menghilangkan malaria di bumi pertiwi.  Hingga sayapun menuangkan cerita kelam yang saya alami akibat malaria pada artikel ini.  
Acara temu blogger kesehatan diadakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di hotel Novotel Bandar Lampung
sumber foto: panitia temu blogger kesehatan
Mulai dari sekarang mari kita bersama sama mengeliminasi malaria demi keberlanjutan masa depan bangsa. Dimulai dari diri kita untuk waspada dan mengenali malaria lalu mencegah dan selanjutnya kita sosialisasikan untuk bersama-sama bebas dari malaria. Jika malaria dieleminasi adalah kebanggaan kita sebagai bangsa yang besar. 
Demikianlah ceritaku tentang Tumbangnya Sang Bujang Petualang: Bebas Malaria Prestasi Bangsa, mari kita eleminasi malaria dan membuat bangsa Indonesia zero malaria. 
Semoga bermanfaat. Salam bahagia selalu!!..

Tambahan bagi teman-teman ingin membaca detail tentang malaria dapat mengunjungi artikelMengapa malaria sangat berbahaya? 

3 comments:

  1. Alhamdulillah si bujang petualang dapat petualang cantik ya bang. ..Jd bs ngebolang bareng hehehe

    ReplyDelete
  2. Nah.. Ini dia cerita terseru dari sang petualang yang melawan Malaria dengan perjuangan keras.

    Saya ikut kuatir juga? Rasanya iya juga. Disatu sisi mau melengkapi foto2 di tempat piknik yg baru, disisi lain harus liat / paham kondisi lokasi yg mau dituju. Terutama daerah2 epidemis malaria..

    Tetap semangat berpiknik ya om..

    ReplyDelete
  3. Wah... Ngeri juga kalau jadi petualang, resiko kena Malaria.

    ReplyDelete